Ketua Dewan Pers Luncurkan Buku di AJI Banda Aceh

Dewan_PersBANDA ACEH — Buku catatan Ombudsman acehkita pada masa darurat militer Aceh yang berjudul “Pers di Terik Matahari” diluncurkan di Kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh, Sabtu (21/5/2016).

Buku itu diluncurkan oleh penulis sekaligus Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo dan Ketua AJI Banda Aceh Adi Warsidi. Secara simbolis, Yosep Adi Prasetyo menyerahkan buku itu kepada Fakhrurradzie Gade, editor in chief acehkita.com, dan Yuswardi Ali Suud, mantan jurnalis acehkita.

Peluncuran buku ini ditandai dengan cerita sejarah lahirnya situs dan majalah acehkita oleh Fakhrurradzie Gade, pemimpin redaksi situs ini. Menurutnya, acehkita.com lahir ketika darurat militer berusia dua bulan.

Sebagai media alternatif yang berupaya memberitakan kabar dari daerah perang, acehkita memiliki puluhan jurnalis yang bekerja dengan nama samaran.

“Saya menggunakan sejumlah nama alias, begitu pula dengan kawan-kawan lain. Sehingga, sesama wartawan acehkita, kita tidak saling kenal,” ujar Radzie.

Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo juga memberikan pengantar dan cerita soal awal keterlibatannya sebagai Ombudsman di acehkita.

“Saat itu saya dihubungi Dandhy (pendiri acehkita.com) yang menyanyakan, Mas mau nggak pasang badan untuk acehkita. Sasaran tembak kalau produk kami bermasalah,” kenang Stanley.

Ia lantas menanyakan kewenangan apa saja yang diberikan kepada Ombudsman. Dandhy menyebutkan bahwa sebagai pengawas, Ombudsman tidak berada di bawah redaksi. Dia bekerja independen untuk mengaudit kerja-kerja redaksi bila ada keluhan dari pembaca.

“Dandhy bilang, Ombudsman memiliki kewenangan untuk memeriksa, catatan akan kami buka. Saya katakan kalau itu kewenangan itu saya mau, kalau ada serangan saya siap pasang badan,” kata Stanley yang saat itu menjabat Direktur Institut Studi Arus Informasi (ISAI), lembaga yang kritis terhadap penerapan darurat militer di Aceh.

Ia memberikan contoh komplain yang diterima acehkita dari seorang sumber foto. Setelah fotonya yang memegang arit pada sebuah apel TNI dan sipil untuk memburu GAM dimuat dan direproduksi oleh Tabloid Modus Aceh, orang itu ketakutan dan komplain.

“Karena komplain itu, saya memeriksa prosedur bagaimana ketika foto itu diambil. Lalu saya berikan catatan,” ujar Stanley.

Stanley sudah lama ingin menerbitkan buku ini. Bahkan, sebuah penerbit lokal di Lamalera pernah meminta untuk diterbitkan di sana. Namun karena buku ini berhubungan dengan jurnalisme dan kejadiannya di Aceh, Dewan Pers akhirnya memfasilitasinya.

Ia juga hendak melunasi utang kepada jurnalis di Aceh yang telah mempertaruhkan nyawa meliput darurat militer.

“Kali ini saya memenuhi utang, saya mengembalikan apa yang pernah saya tulis kepada teman-teman,” tambahnya.

Stanley juga berharap, agar nantinya konflik semacam itu tidak terjadi lagi, karena menurutnya hal tersebut hanya akan menutup kebenaran yang ada.

Buku Pers di Terik Matahari berisikan 38 tulisan mengenai rambu-rambu jurnalistik yang ditulis Stanley saat menjabat Ombudsman acehkita sepanjang 2003 hingga 2005.

Ombudsman hadir untuk menjaga kualitas dan integritas. Ini adalah pihak ketiga yang akan menjembatani redaksi dan pembaca. []

RISMAYANTI
FOTO: Chaideer Mahyuddin/AJI Banda Aceh

Share This Post